PERSALINAN
A. Konsep Dasar Persalinan Normal
1. Pengertian Persalinan
Normal
Persalinan normal adalah proses pengeluaran hasil
konsepsi (janin dan uri) yang telah cukup bulan dan dapat hidup di luar uterus
melalui vagina secara spontan (Manuaba, 1998; Wiknjosastro dkk, 2005). Pada
akhir kehamilan, uterus secara progresif lebih peka sampai akhirnya timbul
kontraksi kuat secara ritmis sehingga bayi dilahirkan (Guyton & Hall,
2002).2. Teori Persalinan
Terdapat berbagai teori persalinan, di antaranya
adalah :
a.
Teori Penurunan Progesteron
Villi koriales mengalami perubahan-perubahan, sehingga
kadar estrogen dan progesterone menurun. Menurunnya kadar kedua hormon ini
terjadi kira-kira 1-2 minggu sebelum partus dimulai (Wiknjosastro dkk, 2005).
Selanjutnya otot rahim menjadi sensitif terhadap oksitosin. Penurunan kadar
progesteron pada tingkat tertentu menyebabkan otot rahim mulai kontraksi
(Manuaba, 1998).
b.
Teori Oksitosin
Menjelang persalinan, terjadi peningkatan reseptor
oksitosin dalam otot rahim,
sehingga mudah terangsang
saat disuntikkan oksitosin
dan menimbulkan kontraksi. Diduga bahwa oksitosin dapat meningkatkan
pembentukan prostaglandin dan persalinan dapat berlangsung terus (Manuaba,
1998).
c.
Teori Keregangan Otot
Rahim
Keadaan uterus yang terus membesar dan menjadi tegang
mengakibatkan iskemia otot-otot uterus. Hal ini merupakan faktor yang
dapat mengganggu sirkulasi
uteroplasenter sehingga plasenta mengalami degenerasi (Wiknjosastro dkk, 2005).
Otot rahim mempunyai kemampuan meregang sampai batas tertentu. Apabila batas
tersebut sudah terlewati, maka akan terjadi kontraksi sehingga persalinan dapat
dimulai (Manuaba, 1998).
d.
Teori Prostaglandin
Prostaglandin sangat meningkat pada cairan amnion dan
desidua dari minggu ke-15 hingga aterm, dan kadarnya meningkat hingga ke waktu
partus (Wiknjosastro dkk, 2005). Diperkirakan terjadinya penurunan progesteron
dapat memicu interleukin-1 untuk dapat melakukan “hidrolisis
gliserofosfolipid”, sehingga terjadi pelepasan dari asam arakidonat menjadi prostaglandin, PGE2 dan PGF2 alfa.
Terbukti pula bahwa saat mulainya persalinan, terdapat penimbunan dalam jumlah
besar asam arakidonat dan prostaglandin dalam cairan amnion. Di samping itu,
terjadi pembentukan prostasiklin dalam miometrium, desidua, dan korion leave. Prostaglandin dapat melunakkan serviks
dan merangsang kontraksi, bila diberikan dalam bentuk infus, per os, atau secara intravaginal (Manuaba, 1998).
e.
Teori Janin
Terdapat hubungan hipofisis dan kelenjar suprarenal
yang menghasilkan sinyal kemudian diarahkan kepada maternal sebagai tanda bahwa
janin telah siap lahir. Namun mekanisme ini belum diketahui secara pasti.
(Manuaba, 1998)
f.
Teori Berkurangnya Nutrisi
Teori berkurangnya nutrisi pada janin diungkapkan oleh
Hippocrates untuk pertama kalinya
(Wiknjosastro dkk, 2005). Hasil konsepsi akan segera dikeluarkan bila nutrisi
telah berkurang (Asrinah dkk, 2010).
g.
Teori Plasenta Menjadi Tua
Plasenta yang semakin tua seiring dengan bertambahnya
usia kehamilan akan menyebabkan turunnya kadar estrogen dan progesteron
sehingga timbul kontraksi rahim (Asrinah dkk, 2010).
3. Tahapan Persalinan Normal
Secara klinis dapat dinyatakan partus dimulai bila
timbul his dan wanita tersebut mengeluarkan lendir yang disertai darah (bloody show). Lendir yang disertai darah
ini berasal dari lendir kanalis servikalis karena serviks mulai membuka atau
mendatar. Sedangkan darahnya berasal dari pembuluh-pembuluh kapiler yang berada
di sekitar kanalis servikalis itu pecah karena pergeseran- pergeseran ketika
serviks membuka (Wiknjosastro dkk, 2005).
a. Kala I
(Pembukaan Jalan Lahir)
Kala I persalinan dimulai dengan kontraksi uterus yang
teratur dan diakhiri dengan dilatasi serviks lengkap. Dilatasi lengkap dapat
berlangsung kurang dari satu jam pada
sebagian kehamilan multipara. Pada kehamilan pertama, dilatasi serviks jarang
terjadi dalam waktu kurang dari 24 jam. Rata-rata durasi total kala I
persalinan pada primigravida berkisar dari 3,3 jam sampai 19,7 jam. Pada
multigravida ialah 0,1 sampai 14,3 jam
(Bobak, Lowdermilk & Jensen, 2004). Ibu akan dipertahankan kekuatan
moral dan emosinya karena persalinan masih jauh sehingga ibu dapat mengumpulkan
kekuatan (Manuaba, 2006).
Proses membukanya serviks sebaga akibat his dibagi dalam 2 fase, yaitu:
1.
Fase laten : berlangsung selama 8 jam. Pembukaan
terjadi sangat lambat sampai mencapai ukuran diameter 3 cm. Fase laten diawali
dengan mulai timbulnya kontraksi uterus yang teratur yang menghasilkan
perubahan serviks.
2.
. Fase aktif : dibagi dalam 3 fase lagi yakni :
1)
Fase akselerasi. Dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm tadi
menjadi 4 cm.
2)
Fase dilatasi maksimal. Dalam waktu 2 jam pembukaan
berlangsung sangat cepat, dari 4 cm menjadi 9
cm.
3)
Fase deselerasi. Pembukaan menjadi lambat kembali.
Dalam waktu 2 jam, pembukaan dari 9 cm menjadi
lengkap.
Fase-fase tersebut dijumpai pada primigravida. Pada multigravida pun
terjadi demikian akan tetapi terjadi dalam waktu yang lebih pendek (Taber,
1994; Wiknjosastro dkk, 2005).
b.
Kala II (Pengeluaran)
Kala II persalinan adalah tahap di mana janin
dilahirkan. Pada kala II, his menjadi lebih kuat dan lebih cepat, kira-kira 2
sampai 3 menit sekali. Saat kepala janin sudah masuk di ruang panggul, maka
pada his dirasakan tekanan pada otot-otot dasar panggul, yang secara
reflektoris menimbulkan rasa mengedan. Wanita merasakan tekanan pada rektum dan
hendak buang air besar. Kemudian perineum mulai menonjol dan menjadi lebar
dengan anus membuka. Labia mulai membuka dan tidak lama kemudian kepala janin
tampak dalam vulva pada waktu his. Dengan his dan kekuatan mengedan maksimal,
kepala janin dilahirkan dengan presentasi suboksiput di bawah simfisis, dahi,
muka dan dagu. Setelah istirahat sebentar, his mulai lagi untuk mengeluarkan
badan dan anggota badan bayi (Wiknjosastro dkk, 2005).
Masih ada banyak perdebatan tentang lama kala II yang
tepat dan batas waktu yang dianggap normal. Batas dan lama tahap persalinan
kala II berbeda-beda tergantung paritasnya. Durasi kala II dapat lebih lama
pada wanita yang mendapat blok epidural dan menyebabkan hilangnya refleks
mengedan. Pada Primigravida, waktu yang dibutuhkan dalam tahap ini adalah 25-57
menit (Bobak, Lowdermilk & Jensen, 2004). Rata-rata durasi kala II yaitu 50
menit (Kenneth et al, 2009; Koniak,
Martin & Reeder, 1992).
Pada tahap ini, jika ibu merasa kesepian, sendiri,
takut dan cemas, maka ibu akan mengalami persalinan yang lebih lama
dibandingkan dengan jika ibu merasa percaya diri dan tenang (Simkin, 2008).
Kala III persalinan berlangsung sejak janin lahir
sampai plasenta lahir (Bobak, Lowdermilk & Jensen, 2004). Setelah bayi
lahir, uterus teraba keras dengan fundus uteri agak di atas pusat. Beberapa
menit kemudian, uterus berkontraksi lagi untuk melepaskan plasenta dari
dindingnya. Biasanya plasenta lepas dalam 6 sampai 15 menit setelah bayi lahir
dan keluar spontan atau dengan tekanan pada fundus uteri (Wiknjosastro dkk,
2005).
Pada tahap ini dilakukan tekanan ringan di atas puncak rahim dengan cara
Crede untuk membantu pengeluaran plasenta. Plasenta diperhatikan kelengkapannya
secara cermat, sehingga tidak menyebabkan gangguan kontraksi rahim atau terjadi
perdarahan sekunder (Manuaba, 2006).
Kala IV persalinan ditetapkan berlangsung kira-kira
dua jam setelah plasenta lahir. Periode ini merupakan masa pemulihan yang
terjadi segera jika homeostasis berlangsung dengan baik (Bobak, Lowdermilk
& Jensen, 2004). Pada tahap ini, kontraksi otot rahim meningkat sehingga
pembuluh darah terjepit untuk
menghentikan perdarahan. Pada
kala ini dilakukan
observasi terhadap tekanan darah, pernapasan, nadi, kontraksi otot rahim
dan perdarahan selama 2 jam pertama. Selain itu juga dilakukan penjahitan luka
episiotomi. Setelah 2 jam, bila keadaan baik, ibu dipindahkan ke ruangan
bersama bayinya (Manuaba, 2006).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar